PESAN KH.DACHLAN SALIM ZARKASYI

PESAN KH.DACHLAN SALIM ZARKASYI

Minggu, 01 Desember 2013

KURIKULUM BARU 2013

WACANA KURIKULUM 2013 ; PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Bismillah. Pendidikan Agama Islam di Sekolah atau yang dikenal dengan sebutan PAI Kurikulum 2013 bersamaan dengan mata pelajaran lainnya akan segera diterapkan pada tahun pembelajaran baru 2013/2014, tepatnya pada bulan Juli 2013. Demikian ditegaskan oleh Pemerintah Indonesia melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada berbagai forum dan kesempatan sosialisasi kurikulum 2013. Menurut pandangan saya, desain Kurikulum PAI 2013 secara filosofis dirancang untuk menghasilkan peserta didik yang berkepribadian muslim yang tangguh keimanannya kepada Alloh Subhanahu Wata’ala, mampu menjalankan syariat Islam secara kaaffah dan istiqomah, mampu bersikap dan berperilaku dengan akhlak mulia dalam kehidupan yang harmoni demi mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.
Secara hirarkhis, standar isi Kurikulum PAI 2013 dijabarkan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) dan Kompentensi Dasar (KD) serta Tujuan Pembelajaran (TP). APA SAJA KOMPETENSI INTI (KI) KURIKULUM 2013 ? Kompetensi inti Kurikulum 2013 terdiri dari empat kompetensi utama berikut. Kompetensi Inti Satu/ KI-1 (Spiritual): Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya. Kompetensi Inti Dua/KI-2 (Sosial):Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya. Kompetensi Inti Tiga/KI-3 (Pengetahuan): Memahami pengetahuan (faktual, konseptual dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata. Kompetensi Inti Empat/KI-4 (Keterampilan):Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori. Keempat kompetensi initi tersebut menjadi kompetensi utama dan wajib ada pada semua mata pelajaran di semua satuan pendidikan dasar dan menengah tidak terkecuali mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), kemudian dijabarkan ke dalam Kompetensi Dasar (KD) pada setiap mata pelajaran masing-masing termasuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) disusun untuk semua kelas pada jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK. Pada tahun pembelajaran baru 2013/2014 kurikulum 2013 PAI akan diterapkan secara bertahap pada Kelas Satu SD/MI, Kelas Empat SD/MI dan Kelas Tujuh SMP/MTs. Kita semua berharap agar tujuan penerapan kurikulum 2013 yang mulia ini benar-benar berhasil mengantarkan anak bangsa Indonesia yang terbaik di masa kini dan masa depan dalam bimbingan dan ridlo Alloh Sang Maha Pendidik ummat manusia dan seluruh makhlukNya di alam semesta. amiin. Bismillah wa la haula wa la kuwwata illa billahil’aliyyil adliim.

Rabu, 28 Maret 2012

Rabu, 08 Februari 2012

kejujuran dalam Al-qur'an

Pertama, Jujur dalam kehidupan sehari-hari; merupakan anjuran dari Allah dan Rasulnya. Banyak ayat Al Qur'an menerangkan kedudukan orang-orang jujur antara lain: QS. Ali Imran (3): 15-17, An Nisa' (4): 69, Al Maidah (5): 119. Begitu juga secara gamblang Rasulullah menyatakan dengan sabdanya: "Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke sorga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan akan membewa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta" (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud)

Kedua, kejujuran dan kebohongan dalam kehidupan politik; ada hadits yang menyatakan dengan tegas bahwa Rasulullah bersabda: "Ada tiga kriteria manusia yang tidak dilihat dan disucikan Allah swt. di hari akherat bahkan bagi mereka adzab yang pedih adalah: Orang sudah tua yang berzina, Pemimpin yang berdusta, dan Orang sombong.

Adapun kebohongan yang diperbolehkan dalam kaitan untuk kegiatan berpolitik, yaitu apabila kebohongan itu bisa meredam keributan sosial agar tidak terjadi perpecahan. Dalam hal ini Rasulullah saw. memberi keringanan seperti dalam hadis dari Ummi Kaltsoum: "Saya tidak mendengar Rasulullah saw. memberi keringanan pada suatu kebohongan kecuali tiga masalah: Seseorang yang membicarakan masalah dengan maksud mengadakan perbaikan (Islah); seseorang membicarakan masalah pada saat konflik perang (agar selamat), dan seseorang yang merayu istrinya begitu juga istri merayu suami.(HR. Muslim) Ada juga hadits yang menyatakan, Rasulullah bersabda: "Bukanlah pendusta orang yang ingin melerai konflik sesama, hingga orang tersebut berkata: semoga baik dan menjadi baik" (HR. Mutafaq Alaih)

Begitulah batas kejujuran dan kebohongan secara dasar yang berkaitan dengan keseharian dan politik. Dan sudah jelas bahwa tujuan dari keduanya adalah untuk sebuah kedamaian.

Namun dalam kaitan politik kontemporer yang lebih pelik lagi dan kompleks, Anda sendiri bisa memilah-milah bagaimana kehidupan politik para penguasa sekarang sangat tidak memperhatikan nilai kejujuran. Namun kita menyadari bahwa sistem negara Islam sendiri juga masih dalam perselisihan hingga sebaiknya yang perlu kita lihat adalah person atau oknum dalam memimpin kepemerintahan tersebut. Selanjutnya kita berdoa agar sistem yang memberi peluang terhadap kebohongan bisa diminimalisir. Dan itu berangkat dari sistem kepribadian kita.

Selasa, 13 Desember 2011

mutiara hikmah

Mutiara Kata Pilihan 4
21
Share


Kalau seseorang menyalahkan orang lain apabila dia mengalami kegagalan, dia juga
akan menyatakan bahawa orang lainlah yang berjasa kalau dia berjaya. - HOWARD NEWTON

Orang yang berfikir dan merenungkan diri dan menilai hidup, mudah memperbaiki
tujuan hidupnya sendiri. - HAMKA

Seorang guru yang mengajar tanpa cuba menimbulkan dan menghidupkan keinginan dan
semangat belajar di kalangan murid-muridnya sama seperti orang yang menempa besi
yang dingin. - MANN HORACE

Angka buruk dalam Kad Kemajuan Pelajaran, harus dipertanggungjawabkan oleh murid,
angka baik adalah jasa sekolah. - KARL HEINZ PICKEL

Kesusahan dalam hidup laksana musim dingin, basah dan lembab, tiada disukai oleh
manusia dan binatang. Tetapi sesudah musim sejuk tumbuh pula bunga-bunga yang
harum dan buah yang subur. - WALTER SCOTT

Percayalah tenaga sendiri. Peganglah nasib hidup dengan kedua belah tangan dan
ubahlah nasib mengikut kemahuan sendiri. - DR. ABU HANAFIAH

Kehidupan adalah pergantian di antara susah dan senang, naik dan turun. Mana yang
tertentu buat kita, tidaklah dapat dipindahkan kepada orang lain dan yang tertentu
bagi orang lain tidaklah berpindah kepada kita. - HAMKA

Mendidik bukan dengan mengisi otak murid dengan serba macam pengetahuan. Tetapi
mendidik ialah membangkitkan jiwa dan fikirannya untuk tahu, supaya apa yang
diketahuinya nanti dapat dipergunakannya untuk mencari apa yang belum
diketahuinya. - DR. OVIDE DARCOLY

Tinggalkan barang yang menimbulkan keraguan engkau dan ambil yang tidak
meragukan. Sesungguhnya kejujuran membuat hati tenteram dan dusta membuat hati
ragu-ragu. - MAKSUD HADIS

Hanya orang yang halus perasaannya, keindahan dan rahsia alam ini dibukakan
Tuhan untuknya. - SOCRATES

Kami menghormati sepenuhnya orang yang berani dan seratus kali lagi kami hormati
kalau dia beradab. - BUDIMAN

Saya percaya bahawa setiap hak mengandungi erti bertanggungjawab, setiap kesempatan
juga mengandungi keharusan dan setiap milik mengandungi kewajipan. - JOHN D. ROCKEFELLER

Ilmu pengetahuan makhluk dan ilmu pengetahuan manusia tidak timbul daripada diri
manusia itu sendiri melainkan dilimpahkan oleh Allah dengan kuatkuasanya. - HAMKA

Agama Islam amat benci orang yang berambut kusut masai, tidak bersikat, berjanggut
kusut masai, tidak bersih dan sebagainya. - MAKSUD HADIS

Selain daripada kerelaan untuk berkorban, kekuatan sesuatu bangsa juga bergantung
kepada kerelaan dan kecekapan untuk bekerja. - SOEKARNO

Orang yang berjiwa kecil cepat naik darah kalau dirinya dikritik, tetapi orang
yang bijaksana mampu memetik hikmah daripada orang yang mengkritiknya dan mampu
menganalisis serta menguji dirinya sendiri. - WALT WHITMAN

Seorang yang berhasil mendapatkan cinta dengan mudah, akan sukar memperoleh cinta
sejati. - LORD CHESTERFIELD

Di medan hidup, ada beberapa undang-undang yang harus dijaga dan diperhatikan. Ada
yang berhubungan dengan kesihatan tubuh, dengan keberesan akal dan yang berhubung
dengan kemuliaan adab dan budi. - HAMKA

Sebaik-baik kaya ialah kaya hati, sebaik-baik bekal ialah takwa, seburuk-buruk
buta ialah buta hati dan sebesar-besar dosa ialah berdusta. - ABDULLAH MAS'UD

Jika tuan seorang yang kuat, pergilah tuan kepada yang lemah untuk menguatkan dan
menunjang mereka. Jika tuan sendiri lemah, tinggalkanlah mereka dan carilah
pergaulan dengan yang terkuat dan tertinggi budinya diantara bangsa tuan. - AUGUST LUBEN

Aku hairan melihat orang yang berpantang daripada halal kerana takut sakit, tetapi
tidak berpantang daripada yang haram kerana takutkan neraka. - IBNU SJABRAMAH

Jangan bertengkar dengan orang yang kurang akal, nanti ia menyakitkan kamu dan
jangan bertengkar dengan orang yang penyantun, nanti dia benci padamu. - IBNU ABBAS

Setiap hukuman, hendaklah dilakukan dan ditimbang dengan seadil-adilnya kerana apa
juga pekerjaan, berkehendak kepada keadilan. Sebab bila keadilan tidak didirikan
besar harapan sesuatu pekerjaan itu akan terganggu. - H.M. MANSUR

Keadilan yang ada pada diri seorang raja, laksana sebentuk mutiara. Meskipun yang
empunya telah mati, mutiara itu tetap tinggal dengan cahayanya. - HUKAMA

Jangan memikirkan masa lampau dan jangan memikirkan masa yang akan datang, tetapi
rebut dan tawan saat ini serta ambillah faedahnya. - MARDEN O.S.

Seorang musuh lebih mudah mengambil tempat dalam kepala kita daripada seorang
sahabat dalam hati kita. - EDMUND BURKE

Saudara itu ada tiga lapisan. Pertama; saudara seperti makanan yang tidak dapat
diketepikan sama sekali untuk selama-lamanya; saudara seperti ubat yang diperlukan
dalam tempoh yang tertentu dan saudara seperti penyakit yang tidak diperlukan
sama sekali. - KHALIFAH AL-MA'MUN

Tujuan utama saya hidup ialah mencari kebenaran bagi alam ini dan saya berkuasa
menghimpunkan diantara sebesar-besar kasih bagi seseorang dan sebesar-besar
kemurkaan bagi kesalahan. - MAHATMA GANDHI

Jangan cepat-cepat jadi kawan orang, tetapi sekali menjadi kawan, peliharalah
hubungan itu sebaik-baik dan jangan sampai putus. - SOCRATES

Ambillah dari dunia untuk tubuh badanmu dan ambillah dari akhirat untuk
hatimu. - SUFYAN ATS-TSAURI

Bersedekah kepada orang miskin itu bererti satu sedekah sahaja, sementara sedekah
kepada kaum kerabat itu bererti dua sedekah, iaitu bersedekah dan menguatkan
hubungan persaudaraan. - MAKSUD HADIS

Tidak ada bahaya peribadi melainkan malas, dan tidak ada ketinggian peribadi
melainkan rajin. - PERIBAHASA TIBET

Sabar terbahagi kepada dua iaitu, sabar dalam menjauhkan apa yang engkau tidak
suka dan sabar dalam mengejar apa yang engkau suka. - SAYIDINA ALI ABI TALIB

Apabila anda berbuat salah, jangan malu untuk mengakuinya dan berusahalah untuk
memperbaikinya. Sesungguhnya itu adalah kesalahan. - CONFUCIUS

Percayalah tenaga sendiri. Peganglah nasib hidup dengan kedua-dua belah tangan
dan ubahlah nasib mengikut kemahuan sendiri. - ABU HANAFIAH

Tujuan utama dalam pendidikan ialah mendekatkan diri kepada Allah, bukan kerana
mencari nama, pangkat, pengaruh atau mengharapkan pujian orang. - MUSLIM

Orang akan tetap menjadi ahli ilmu sejati selama masih menuntut. Tetapi pada suatu
ketika apabila ia berkata, "Aku sudah pintar, " maka tetapkanlah bahawa ia sudah
menjadi bodoh dengan sendirinya. - LUKMANUL HAKIM

Manusia yang berakal budi sentiasa berusaha mempertinggi martabat jiwanya, sehingga
mempunyai yang lebih baik sempurna. - HAMKA

Kalau ada kemahuan jujur, tentu ada jalan yang cepat dan dapat melaksanakan yang
dicita. - LORD KILLEARN

Apapun langkah yang anda ambil untuk mencapai kejayaan, bererti tatatertib terhadap
diri sendiri dan kewajipan. - AHLI JIWA

Jangan membuang waktu barang seminit pun untuk memikirkan orang-orang yang anda
tidak suka. - CICERO

Masa muda adalah waktu yang baik untuk membina dan menyempurnakan sifat dan
kelakuan. - PERIBAHASA INGGERIS

Terlalu banyak bercakap tidak cekap, terlalu banyak makan menyebabkan
muntah. - PERIBAHASA TIBET

Minggu, 04 September 2011

Selamat hari raya IDUL FITRI 1432 H

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN SEMOGA AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH SWT , DAN AMAL SHALEH KITA SEMAKIN MENINGKAT.

Takwa dan Fungsinya

Takwa dan Fungsinya

Takwa adalah bekal hidup paling berharga dalam diri seorang muslim. Tanpanya hidup menjadi tidak bermakna dan penuh kegelisahan. Sebaliknya, seseorang akan merasakan hakikat kebahagiaan hidup, baik di dunia mau pun di akhirat apabila ia berhasil menyandang sebagai orang yang bertakwa.

Kata takwa sudah amat akrab di telinga kita. Tiap khutbah Jumat sang khotib senantiasa menyerukannya. Bahkan di tiap bulan Ramadhan, kata taqwa pun menghiasi ceramah-ceramah atau kultum-kultum yang diadakan. Taqwa adalah bekal hidup paling utama.

Ketika Abu Dzarr Al-Ghifari meminta nasihat kepada baginda Rasulullah, maka pesan paling pertama dan utama yang beliau sampaikan kepada sahabatnya itu adalah takwa. Kata Rasulullah SAW, "Saya wasiatkan kepadamu, bertakwalah engkau kepada Allah karena takwa itu adalah pokok dari segala perkara." [Nasr bin Muhammad bin Ibrahim, Kitab Tanbih al-Ghofilin li Abi Laits As-Samarkindi]

Secara lughah (bahasa), takwa berarti: takut atau mencegah dari sesuatu yang dibenci dan dilarang. Sedangkan menurut istilah, terdapat pelbagai pengertian mengenai takwa. Ibn Abbas mendefinisikan, taqwa adalah takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya. [tafsir Ibn Katsir, hal. 71]

Imam Qurthubi mengutip pendapat Abu Yazid al-Bustami, bahwa orang yang bertakwa itu adalah: "Orang yang apabila berkata, berkata karena Allah, dan apabila berbuat, berbuat dan beramal karena Allah." Abu Sulaiman Ad-Dardani menyebutkan: "Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang kecintaan terhadap hawa nafsunya dicabut dari hatinya oleh Allah." [Al-Jami li Ahkamil Qur'an, 1/161]. Sedangkan Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah menegaskan, bahwa hakikat taqwa adalah taqwa hati, bukan takwa anggota badan." [lihat: Ibn Qayyim al-Jauziyyah, kitab al-Fawaid, hal.173]

Umumnya, para ulama mendefinisikan taqwa sebagai berikut: "Menjaga diri dari perbuatan maksiat, meninggalkan dosa syirik, perbuatan keji dan dosa-dosa besar, serta berperilaku dengan adab-adab syariah." Singkatnya, "Mengerjakan ketaatan dan menjauhi perbuatan buruk dan keji." Atau pengertian yang sudah begitu populer, taqwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.

Dari definisi-definisi di atas menunjukan bahwa urgensi taqwa sudah tidak diragukan lagi, apalagi Al-Qur'an dan hadis Nabi SAW. secara berulang-ulang menyeru kita supaya bertaqwa. Khusus bagi orang-orang yang bertakwa, Allah telah menjanjikan berbagai macam keistimewaan atau balasan atas mereka, di antaranya: pertama, bagi siapa saja yang bertaqwa kepada-Nya, maka akan dibukakan baginya jalan keluar ketika menghadapi pelbagai persoalan hidupnya. (QS Ath-Thalaq: 2).

Kedua, memperoleh rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS At-Thalaq:3). Ketiga, dimudahkan segala urusannya (QS Al-Thalaq:4). Kelima, diampuni segala dosa dan kesalahannya, dan bahkan Allah SWT. akan melipatgandakan pahala baginya (QS Al-Thalaq: 5). Keenam, orang yang bertaqwa tidak akan pernah merasa takut, mengeluh, was-was dan sedih hati (QS Yunus: 62-63). Ketujuh, mereka yang bertaqwa akan memperoleh berita gembira (al-busyra), baik di dunia maupun di akhirat (QS Yunus: 64).

Di samping memberikan motivasi, janji-janji yang terkandung dalam ayat-ayat di atas juga menjelaskan tentang keutamaan taqwa dan fungsionalnya terhadap problematika kehidupan seorang muslim. Oleh sebab
itu, tidak semestinya bagi seorang muslim atau mukmin memandang remeh perkara ini. Pasal, taqwa berfungsi sebagai bekal hidup yang paling esensial dan substansial.

Lebih-lebih, bagi seorang pemimpin yang sedang memikul amanah dan tanggung jawab, bekal ketaqwaan tentunya sangat diperlukan. Tidak mustahil, seorang pemimpin, apa pun posisi dan levelnya akan mampu menunaikan tugas-tugasnya dengan baik, menemukan jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya serta dapat mencapai tujuan kolektifnya, apabila pemimpin tersebut membekali dirinya dengan ketakwaan kepada Allah.

Ibadah puasa Ramadhan tahun ini sudah hampir tiba. Kehadirannya merupakan momentum yang sangat berharga bagi kita untuk bermuhasabah dan berlomba-lomba dalam memperbanyak amal kebajikan sehingga kita betul-betul termasuk golongan insan bertakwa. Wallahu'alam bis shawab.

Senin, 18 Juli 2011

DO'AKU

YA RABBI SELAMATKANLKAH NEGERI INI DARI PENYELENGGARA NEGARA YANGT TIDAK BERTANGGUNG JAWAB

INDONESIAKU

negeri kita Indonesia butuh orang orang yang tidak hanya Pinter tapi juga memiliki karakter Nubuwwah ( jujur , amanah , cerdas , punya iuntegritas )

Jumat, 24 Juni 2011

HIKMAH ISRA' DAN MI'RAJ

Dalam sejarahnya, dakwah Rasulullah tak pernah sepi dari gangguan kafir Quraisy. Di tengah tantangan dakwah itu, kesedihan yang tak terperikan dihadapi Rasulullah, yakni wafatnya dua orang paling disegani dan dikasihi Nabi SAW, yakni sang paman Abu Thalib, dan istri tercinta Khadijah. Dengan totalitas yang tak diragukan lagi, keduanya adalah pendukung setia dakwah Rasulullah. Wafatnya kedua pendukung utama ini, merupakan ujian besar bagi perjuangan Rasul SAW.

Dalam situasi seperti itu, Allah SWT "menghibur" Rasulullah dengan memperjalankannya ke langit melalui peristiwa Isra dan Mikraj, dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Kemudian, dilanjutkan dengan perjalanan (Mikraj) ke Sidratul Muntaha (tempat tiada berbatas), Arasy (takhta Allah), hingga menerima wahyu secara langsung dari Allah SWT tanpa perantaraan Jibril, yakni perintah shalat. Peristiwa itu terjadi pada 27 Rajab, setahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah.

"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Isra [17]: 1).
Isra Mikraj bukanlah sekadar perjalanan 'hiburan' bagi Rasul. Isra Mikraj adalah perjalanan bersejarah yang menjadi titik balik kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku In the Footsteps of Muhammad:

Understanding the Islamic Experience, seperti dikutip Azyumardi Azra, mengungkapkan bahwa Isra Mikraj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasul SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. "Isra Mikraj benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh dunia gaib."

Bila hijrah dari Makkah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, dan Haji Wada menandai penguasaan umat Islam atas kota suci Makkah, maka Isra Mikraj menjadi puncak perjalanan rohani seorang hamba menuju al-Khalik dalam menyempurnakan keimanannya (insan kamil).

Seyyed Hussein Nasr dalam buku Muhammad Kekasih Allah (1993) mengungkapkan, pengalaman rohani yang dialami Rasulullah saat Mikraj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat. "Shalat adalah mikrajnya orang-orang beriman," demikian ungkapan sebuah hadis.

Dari peristiwa agung di atas, dapat kita tarik beberapa pelajaran. Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang harus dihadapi dengan kesabaran. Kedua, kesabaran akan berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mikraj dan perintah shalat. Ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasul SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketaatan menjalankan shalat akan membuahkan masyarakat yang damai, bersih, dan jauh dari tindak korupsi.

Ketiga hal ini terangkum sangat indah dalam Alquran. "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."
Oleh Hery Sucipto

Dalam sejarahnya, dakwah Rasulullah tak pernah sepi dari gangguan kafir Quraisy. Di tengah tantangan dakwah itu, kesedihan yang tak terperikan dihadapi Rasulullah, yakni wafatnya dua orang paling disegani dan dikasihi Nabi SAW, yakni sang paman Abu Thalib, dan istri tercinta Khadijah. Dengan totalitas yang tak diragukan lagi, keduanya adalah pendukung setia dakwah Rasulullah. Wafatnya kedua pendukung utama ini, merupakan ujian besar bagi perjuangan Rasul SAW.

Dalam situasi seperti itu, Allah SWT "menghibur" Rasulullah dengan memperjalankannya ke langit melalui peristiwa Isra dan Mikraj, dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Kemudian, dilanjutkan dengan perjalanan (Mikraj) ke Sidratul Muntaha (tempat tiada berbatas), Arasy (takhta Allah), hingga menerima wahyu secara langsung dari Allah SWT tanpa perantaraan Jibril, yakni perintah shalat. Peristiwa itu terjadi pada 27 Rajab, setahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah.

"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Isra [17]: 1).
Isra Mikraj bukanlah sekadar perjalanan 'hiburan' bagi Rasul. Isra Mikraj adalah perjalanan bersejarah yang menjadi titik balik kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku In the Footsteps of Muhammad:

Understanding the Islamic Experience, seperti dikutip Azyumardi Azra, mengungkapkan bahwa Isra Mikraj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasul SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. "Isra Mikraj benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh dunia gaib."

Bila hijrah dari Makkah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, dan Haji Wada menandai penguasaan umat Islam atas kota suci Makkah, maka Isra Mikraj menjadi puncak perjalanan rohani seorang hamba menuju al-Khalik dalam menyempurnakan keimanannya (insan kamil).

Seyyed Hussein Nasr dalam buku Muhammad Kekasih Allah (1993) mengungkapkan, pengalaman rohani yang dialami Rasulullah saat Mikraj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat. "Shalat adalah mikrajnya orang-orang beriman," demikian ungkapan sebuah hadis.

Dari peristiwa agung di atas, dapat kita tarik beberapa pelajaran. Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang harus dihadapi dengan kesabaran. Kedua, kesabaran akan berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mikraj dan perintah shalat. Ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasul SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketaatan menjalankan shalat akan membuahkan masyarakat yang damai, bersih, dan jauh dari tindak korupsi.

Ketiga hal ini terangkum sangat indah dalam Alquran. "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."

DIMENSI SHALAT

Beginilah Dimensi Shalat (HIKMAH ISRA' DAN MI'RAJ )

As-Shalah adalah nama lain untuk surah pembuka dalam al-Qur'an al-Karim. Al-Fatihah adalah bagian integral dari shalat, tidak ada shalat tanpa Al-Fatihah. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barang siapa shalat tanpa membaca Ummul Qur'an di dalamnya, maka shalatnya kurang, shalatnya kurang, shalatnya kurang, dan tidak sempurna." (HR Muslim). Al-Fatihah dikenal pula sebagai 'tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang' (sab'al matsani) di dalam shalat, baik wajib maupun sunah. (QS al-Hijr [15]: 87).

Di dalam sebuah hadis Qudsi, secara eksplisit Allah SWT mengidentikkan al-Fatihah dengan as-Shalah. Nabi SAW bersabda, "Allah Yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya. Apabila hamba membaca:

"Alhamdulillahi rabbil 'alamin" (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam), maka Allah Yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Hamba-Ku memuji Aku." Apabila ia membaca "Arrahmanirrahim" (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang), maka Allah Yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Hamba-Ku menyanjung Aku."

Apabila ia membaca: "Maliki yaumiddin" (Yang Memiliki hari Pembalasan), maka Allah berfirman: "Hamba-Ku memuliakan Aku", dan sekali waktu Dia berfirman: "Hamba-Ku menyerah kepada-Ku". Apabila ia membaca: "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan), Allah berfirman: "Ini antara Aku dan hambaKu, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya."

Apabila ia membaca: "Ihdinashshirathal mustaqim. Shirathal ladzina an'amta alaihim ghairil maghdhubi 'alaihim wa ladhdhallin" (Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri petunjuk atas mereka bukan [jalan] orang-orang yang dimurkai atas mereka dan bukan [jalan] orang-orang yang sesat). Maka, Allah berfirman: "Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya." (HR Muslim).

Di dalam shalat terjadi dialog yang sangat indah antara seorang hamba dengan Tuhannya. Di dalamnya juga terangkum penghormatan, penghargaan, pengakuan, dan cinta sejati (hamd), harap (raja'), dan cemas (khauf).

Selain dimensi vertikal, di dalam shalat terbangun pula sendi-sendi dari sebuah masyarakat madani (civil society). Shalat berjamaah merefleksikan interaksi horizontal yang tertib dan teratur. Shaf-shaf shalat berjamaah memancarkan keindahan dari sebuah keteraturan dan ketertiban yang terbangun di atas dasar ketaatan, persaudaraan, dan kesetaraan. Selain interaksi fisik, terjalin pula ikatan hati di antara para jamaah baik secara lokal maupun global melalui doa-doa kolektif dan salam yang ditebarkan sebagai penutupnya.

Shalat berjamaah mengajarkan pula prinsip-prinsip kepemimpinan. Pemimpin atau imam shalat, dipilih berdasarkan kompetensi dan integritasnya. Jika imam salah, makmum berkewajiban mengingatkan, bahkan pemimpin yang tidak lagi memenuhi persyaratan. Wallahu a'lam.

Selasa, 19 Oktober 2010

IBADAH HAJI DAN QURBAN

Sebagian�generasi terdahulu yang sholeh lebih menyukai membagi kurban menjadi tiga bagian yaitu sebagian untuk diri sendiri, sepertiga untuk hadiah orang-orang mampu dan sepertiga lagi shadaqah untuk fuqara. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/300).

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Maka makanlah sebagiannya (dan sebagian lagi) berikalah untuk dimakan orang-orang sengsara lagi fakir.” (QS: Al-Hajj: 28)
“Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (QS: Al-Hajj: 36).

Anjuran bagi pengorban

Bila seseorang ingin berkurban dan memasuki bulan Dzulhijjah maka baginya agar tidak memotongi mengambil rambut, kuku, atau kulitnya sampai dia penyembelih binatangnya, karena hadits Ummu Salamah Radhiallaahu anha. bahwa Rasululloh ShallAllohu alaihi wasalam bersabda, yang artinya: “Bila masuk hari-hari sepuluh Dzulhijjah sedang seseorang dari kalian hendak berkurban maka dia harus manjaga rambut dan kuku-kukunya.” (HR: Ahmad dan Muslim)

Dalam satu lafad lagi, yang artinya: “Maka janganlah dia memotong rambut dan kulit (kuku-kuku) sedikitpun sampai dia berkurban.”

Jika seseorang niat berkurban pada pertengahan hari-hari sepuluh itu maka dia menahan hal itu sejak saat niatnya, dan dia tidak berdosa terhadap hal-hal yang terjadi pada saat-saat sebelum niat.

Bagi keluarga yang akan berkurban dibolehkan memotong rambut dari tubuh, kuku atau kulit mereka (sebab larangan ini hanya ditujukan bagi yang berkurban saja dan hanya sunnah untuk dijauhi). Sehingga bila ada kepentingan kesehatan maka boleh memotong.

Hikmah Kurban

Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim yang taat dan tegar melaksanakan kurban atas perintah Alloh Subhanahu wa Ta’ala meskipun harus kehilangan putra satu-satunya yang didambakan (QS: As-Shaf: 102-107)

Menegakkan syiar Dinul Islam dengan merayakan Iedul Adhha secara bersamaan dan saling tolong menolong dalam kebaikan(QS.:Al-Hajj: 36)� Rasululloh ShallAllohu alaihi wasalam bersabda, yang artinya: “Hari-hari tasyrik adalah hari-hari makan, minum dan dzikir kepada Alloh Azza wajalla.” (HR: Muslim dalam Maktashar No. 623)

Bersyukur kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat-nikmatNya, maka mengalirkan darah binatang kurban ini termasuk syukur dan ketaatan dengan satu bentuk taqarrub yang khusus (QS: Al-Hajj: 34). Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Alloh Subhanahu wa Ta’ala terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Alloh kepada mereka, maka Ilahmu ialah Ilah Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Alloh). (QS: Al-Hajj: 34)

Di hari-hari itu juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih, kebaikan dan kemasyarakatan, seperti bersilaturahmi, berkunjung sanak kerabat, menjaga diri dari rasa iri, dengki, mendongkol maupun amarah, hendaklah menjaga kebersihan hati, menyantuni fakir miskin, anak yatim, orang-orang yang terlilit kekurangan dan kesulitan.

Namun bagi orang yang akan bekurban tidak harus meniru orang yang sedang ihram sampai tidak: memakai minyak wangi, bersetubuh, bercumbu (suami istri), melangsungkan akad nikah, berburu binatang dll. Sebab yang demikian itu tidak ada tuntunan dari Rasululloh ShallAllohu alaihi wasalam. Namun Hendaklah kita menegakkan syiar agama Alloh ini dengan amal shalih, amar ma’ruf dan nahi munkar dengan cara yang penuh hikmah, hendaklah setiap kita menggunakan kemampuan, keahlian, kedudukan dan segala nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala�dengan sesungguhnya bersyukur dalam menegakkan ajaran dan syiar Dienullah Islam.

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala�senantiasa membimbing kita kepada cinta dan keridhaanNya. Amin.

(Sumber Rujukan: Min Ahkamil Udhiyyah, Asy-Syaikh Al-Utsaimin)

Rabu, 08 September 2010

KHUTBAH ‘IEDUL FITRI " MEMBANGUN KESHALEHAN INDIVIDUAL DAN SOSIL*

Oleh: Prof. DR. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَه، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرُ الصِّيَامِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَجَعَلَ عِيْدَ الْفِطْرِ ضِيَافَةً لِلصَّائِمِيْنَ وَفَرْحَةً لِلْمُتَّقِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْن، اللهم فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلهِ وَأَصْحَابِ الْكِرَامِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن.

Hadirin Jama’ah ‘Iedul Fitri Rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita semua, sehingga pada hari ini kita bersama dapat duduk bersimpuh mengucapkan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil sebagai perwujudan dari rasa syukur kita menyelesaikan ibadah shaum di bulan suci Ramadhan 1430 H. Dan hari ini kita memasuki hari yang penuh dengan kebahagiaan rohani, kelezatan samawi dan kenikmatan spiritual, sejalan dengan firman-Nya pada QS. Al-Baqarah ayat 185:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: .. وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُ اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. {البقرة : 185}.

“…Dan hendaknya kamu mencukupkan bilangannya dan hendaknya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, niscaya kamu bersyukur”. (QS. Al-Baqarah: 185).

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!

Ibadah shaum di bulan Ramadhan yang baru saja kita laksanakan, sesungguhnya adalah suatu proses pendidikan yang berkelanjutan dan berkesinambungan bagi orang-orang yang beriman yang menghantarkannya pada puncak nilai-nilai kemanusiaan yang disebut dengan taqwa (لعلكم تتقون). Taqwa inilah indikator utama kemuliaan, indikator utama kebahagiaan dan indikator utama kesejahteraan. Firman-Nya dalam QS. Al-Hujurat ayat 13.

قَالَ اللهُ تَعَاَلَى: يَآأَيـــُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ. {الحجرات : 13}.

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat: 13).

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.{الأعراف: 96}.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf: 96).

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!

Hadirin Jama’ah ’Iedul Fitri Rahimakumullah

Ada dua hal penting yang ditumbuhkan melalui latihan-latihan selama ibadah di bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keberkahan ini, yang merupakan indikator utama ketaqwaan.

Pertama, Menumbuh-kembangkan keshalehan individual pada diri kita masing-masing. Misalnya ibadah shaum melatih kita menjadi orang yang jujur karena Allah. Secara pribadi orang-orang yang beriman yang berpuasa, haruslah menjadi orang yang jujur. Karena kejujuran itu merupakan sesuatu yang sangat penting dan menentukan. Tanpa kejujuran tidak mungkin kita bisa membangun diri kita, keluarga maupun masyarakat dan bangsa kita kea rah yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّة،َ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدق حَتَّى يُكْتَب عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا. وَإِيَّاكَ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجْورَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذب حَتَّى يُكْتَب عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا. {رواه البخاري}.

"Rasulullah Saw. bersabda: “Hendaknya kalian selalu berusaha menjadi orang yang benar dan jujur, kerena kejujuran akan melahirkan kebaikan-kebaikan (keuntungan-keuntungan). Dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke-surga. Jika seseorang terus berusaha menjadi orang yang jujur, maka pasti dicatat oleh Allah sebagai orang yang selalu jujur. Jauhilah dusta dan menipu, karena dusta itu akan melahirkan kejahatan dan kejahatan akan menunjukkan jalan ke-neraka. Jika seseorang terus-menerus berdusta, maka akan dicatat oleh Allah sebagai orang selalu berdusta”. (HR. Bukhari).

Kejujuran adalah sumber utama kebaikan. Orang yang jujur pasti akan melahirkan kebaikan-kebaikan. Sebaliknya orang yang tidak jujur, orang yang selalu berdusta pada dirinya, dusta pada Allah, dusta pada keluarga dan masyarakatnya, adalah sumber dari keburukan dan kejahatan. Hal ini seperti diungkapkan dalam hadits tersebut di atas.

Kejujuran juga akan menghantarkan pada kesuksesan. Kisah Nabi Yusuf AS mampu mensejahterakan masyarakatnya, ketika beliau ditunjuk sebagai salah seorang petinggi di negeri Mesir, karena beliau memiliki sifat hafidzun (sifat jujur dan menjaga). Allah SWT berfirman:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَآئِنِ الأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ. {يوسف: 55}.

”Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf [12]: 55).

Disamping secara pribadi harus jujur, orang yang beriman pun harus melahirkan dan membangun lingkungan yang jujur. Di dalam keluarga maupun di tempat bekerja. Allah SWT berfirman:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِيْنَ. {التوبة: 119}.

”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]: 119).

Banyak orang yang beranggapan, bahwa kalau kita jujur, maka kehidupan kita akan mengalami kesusahan. Paradigma semacam ini harus kita rubah secara revolusioner. Justru sebaliknya, kejujuranlah yang akan menumbuhkan keberkahan, kebaikan dan kesejahteraan bagi diri kita. Apalagi pada saat-saat masyarakat sudah tidak mencintai dan menyenangi sifat jujur. Maka disitulah kita buktikan bahwa kejujuran akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!

Hadirin Jama’ah ’Iedul Fitri Rahimakumullah

Sifat kedua yang berkaitan dengan keshalehan individual, adalah sifat amanah. Apapun yang menjadi tanggung jawab dan pekerjaan kita, harus dipandang serta dianggap sebagai amanah dari Allah SWT, yang pertanggung jawabannya bukan hanya sekedar kepada manusia, akan tetapi juga kepada Allah SWT kelak kemudian hari. Orang yang amanah pasti akan mendapatkan kemakmuran dalam hidupnya. Sebaliknya orang yang khianat, pasti akan menderita kerugian dan kefakiran di dalam kehidupannya.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ. {الأنفال: 27}.

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal [8]: 27).

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: الأَمَانَةُ تَجْلِبُ الرِّزْقَ وَالْخِيَانَةُ تَجْلِبُ الْفَقْرَ. {رواه الديلمي}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Sifat amanah dan jujur itu akan menarik rizki, sedangkan khianat itu akan menarik (mengakibatkan) kefakiran.” (HR. Dailamiy).

Indikator ketiga dari keshalehan individual adalah, bahwa orang yang beriman dan melaksanakan ibadah shaum pada bulan Ramadhan harus memiliki etos kerja yang tinggi dan mempunyai sifat mujahadah. Artinya puasa ini melatih kita bagaimana kita dapat mempersembahkan yang terbaik dalam hidup ini. Ketika bekerja, mengajar, berdagang, maupun pekerjaan-pekerjaan yang menjadi amanah dan tanggung jawab kita, maka kita persembahkan hasil yang terbaik. Orang-orang yang mujahadah dan sungguh-sungguh – jangankan berhasil – andaikan tidak berhasil sesuai dengan targetnya pun, sudah mendapatkan nilai yang mulia di hadapan Allah SWT.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ. {العنكبوت: 69}.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut [29]: 69).

Orang-orang Islam yang beriman dilarang memiliki sikap malas. Sikap malas tidak mau bekerja adalah bagian dari musuh bersama (common enemy) yang harus dijauhi. Rasulullah SAW sering berdo’a:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْز ِوَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ وَأَعُوذُبِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. {رواه البخارى ومسلم}.

"Rasulullah Saw. bersabda : "Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari lemah pendirian, sifat malas, penakut, kikir, hilangnya kesadaran, terlilit utang dan dikendalikan orang lain.”. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan dari fitnah (ketika) hidup dan mati". (HR. Bukhari dan Muslim).

Kemiskinan pun sesungguhnya sering terjadi bukan karena kekurangan sumber alam, bukan karena kekurangan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan bukan pula karena kekurangan keterampilan. Kemiskinan seringkali terjadi karena sikap malas dan menggantungkan pemenuhan kebutuhan hidupnya hanya pada orang lain. Inilah yang disebut dengan kemiskinan kultural. Karena itu, di dalam berbagai macam ayat kita diperintahkan untuk bekerja dan bertebaran di muka bumi ini.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانتَشِرُوا فيِ اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. {الجمعة: 10}.

“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 10).

Dan dalam ayat yang lainnya, Allah SWT berfirman:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اْلأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فيِ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ. {الملك: 15}.

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk [67]: 15).

وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ. {التوبة: 105}.

“Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah [9]: 105).

Kita kaum muslimin, harus senantiasa mencintai pekerjaan kita. Karena sesungguhnya bekerja itu adalah bagian dari ibadah. Orang-orang yang berusaha mencari rizki yang halal dengan bekerja semaksimal mungkin, akan selalu mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: مَنْ بَاتَ كالاَّ مِنْ طَلَبِ الحَلاَلِ بَاتَ مَغْفُوْرًا له. {رواه ابن عساكر من طريق عمرو بن أبى الأزهر عن أبان بن أبى عياش وهما متهمان عن أنس}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa tertidur karena kelelahan dalam mencari rizki yang halal, maka ia tertidur dalam keadaan mendapatkan ampunan dari Allah SWT.” (HR. Ib ‘Asakir).

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!

Hadirin Jama’ah ’Iedul Fitri Rahimakumullah

Keshalehan yang kedua, yang harus kita bangun melalui ibadah shaum adalah keshalehan sosial. Dalam arti bahwa, kita sebagai orang-orang yang beriman tidak boleh kita merasakan kesenangan secara pribadi dan orang lain dalam keadaan susah. Kita harus memperhatikan tetangga kita, lingkungan kita, masyarakat kita dan orang-orang yang berada di sekitar kita secara lebih luas, apalagi yang berkaitan dengan kepentingan umat Islam. Apapun yang dialami oleh kaum muslimin, dimana pun mereka berada, sesungguhnya harus dirasakan oleh kita. Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: وَمَنْ لَمْ يَهْتَمْ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ. {الحديث}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan orang-orang muslim, maka dia bukan termasuk golongan kaum muslim.” (al-Hadits).

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: تَرَى الْمُؤْمِنِيْنَ فيِ تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادُدِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى. {رواه البخارى}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Engkau lihat orang-orang mukmin dalam keadaan saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyayangi, seperti satu tubuh. Apabila sala satu anggauta tubuhnya sakit, maka anggauta tubuh lainnya akan merasakan panas dingin (demam)”. (HR. Bukhari).

Rasulullah SAW juga mengancam pada orang yang tertidur karena kekenyangan sementara tetangganya tidak bisa tidur karena kelaparan, padahal dia mengetahuinya.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: يَا أَنَس مَا آمَنَ بِيْ مَنْ بَاتَ شَبْعَانَا وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ. {رواه الديلمي والطبراني عن أنس}.

"Rasulullah Saw. bersabda: "Wahai Anas, tidak dikatakan beriman kepadaku orang yang tidur kekenyangan, sedangkan tetangganya mengalami kelaparan, dan dia mengetahuinya." (HR. Ad-Daelamiey dan Thabrani dari Anas).

Apalagi pada saat sekarang ini, banyak sekali terjadi musibah diberbagai tempat, seperti yang terjadi di Garut, Tasikmalaya, Cianjur dan di tempat lainnya baru-baru ini, maka kepedulian dan keshalehan sosial harus semakin kita asah dan bangkitkan, agar kita mampu memberikan yang terbaik buat saudara-saudara kita maupun lingkungan kita.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!

Hadirin Jama’ah ’Iedul Fitri Rahimakumullah

Salah satu tools dan alat untuk membangun keshalehan sosial ini dan sekaligus untuk menumbuhkan serta membangun kesejahteraan masyarakat adalah perintah untuk senantiasa berzakat, berinfaq atau bershadaqah. Zakat, infaq dan shadaqah adalah bukti dari keimanan kita kepada Allah SWT serta bukti dari kecintaan kita kepada sesama. Harus kita sadari, bahwa dengan berzakat harta kita akan semakin bertambah, seperti digambarkan dalam firman-Nya:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّباً لِّيَرْبُوَ فيِ أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ يَرْبُو عِندَ اللهِ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ. {الروم: 39}.

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Rum [30]: 39).

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: مَانَقَصَ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ...{الحديث}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak akan pernah berkurang harta karena sebabb dikeluarkan zakat/infaqnya…” (al-Hadits).

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: اَلتَّوَاضُعُ لاَيَزِيْدُ الْعَبْد إِلاَّ رِفْعَةً، فَتَوَاضَعُوْا يَرْفَعَكُمُ اللهُ تَعَالَى وَالْعَفْوُ لاَيَزِيْدُ الْعَبْد إِلاَّ عِزّاً فَاعْفُوْا يَعِزُّكُمُ اللهُ تَعَالَى وَالصَّدَقَةُ لاَتَزِيْدُ الْمَالَ إِلاَّ كَثْرَةً فَتَصَدَّقُوْا يَرْحُمكُمُ اللهُ. {رواه ابن ابى الدّنيا}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Sikap rendah hati itu hanya akan menambah seseorang makin menjadi mulia, maka dari itu berlaku rendah hatilah kalian, niscaya Allah SWT akan memuliakanmu. Sikap pemaaf hanya akan menambah seseorang makin mulia, oleh karena itu banyak maaflah kalian, niscaya Allah SWT akan memuliakanmu. Dan amal sedekah itu hanyalah akan menambah seseorang makin banyak hartanya, maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah SWT akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian”. (HR. Ibnu Abu Dunya).

Karena itu, zakat, infaq dan shadaqah ini harus dijadikan sebagai life style (gaya hidup), budaya dan kepribadian kita. Bahwa tangan di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan di bawah (peminta). Sikap meminta karena kebutuhan yang mendesak itu diperbolehkan. Akan tetapi kalau sikap meminta-minta dijadikan sebagai sebuah pekerjaan dan profesi, tentu saja sangat dicela oleh ajaran agama.

Dengan zakat, infaq dan shadaqah yang dikelola dengan baik oleh amil zakat yang amanah, terpercaya dan bertanggung jawab, maka pasti akan dapat meningkatkan kesejahteraan para kaum masakin dan dhua’afa. Secara empirik hal ini telah terbukti pada masa Umar bin Abdul Azis yang memerintah + 22 bulan, ketika zakat dikelola oleh amil zakat yang amanah, profesional dan bertanggung jawab, maka pada masa tersebut tidak ada masyarakat yang termasuk dalam kategori mustahiq/penerima zakat. Adapun potensi zakat di Indonesia secara makro pun sangatlah besar, yaitu + Rp. 19,3 triliun setiap tahun. Dapat dibayangkan jika potensi ini dapat digali dengan baik dan dikelola oleh amil yang amanah, maka tentu akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Inilah beberapa hal yang berkaitan dengan keshalehan sosial yang harus kita tumbuhkan bersama-sama. Mudah-mudahan Allah SWT akan senantiasa memberikan keberkahan dan kekuatan kepada kita semua. Amien yaa rabbal ‘alamien.

Semoga Allah menerima segala amal ibadah yang kita lakukan, menyempurnakan segala kekurangannya, dan mudah-mudahan kita semuanya termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang bertaqwa. Mari kita berdo’a dan memohon kepada Allah SWT.

DO’A

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَلاَهُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. أَمَّا بَعْدُ: أَيــُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأيــُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Kami panjatkan segala puji dan syukur atas segala rahmat dan karunia yang telah Engkau limpahkan kepada kami, nikmat sehat wal ‘afiat, nikmat ilmu pengetahuan dan nikmat iman serta Islam. Ya Allah, ya Tuhan kami. Jadikanlah kami semua hamba-hamba-Mu yang pandai mensyukuri nikmat-Mu, dan janganlah Engkau jadikan kami hamba-hamba yang ingkar dan kufur terhadap segala nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.

لَئِنْ شَكَْرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ.

Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami, kesalahan dan dosa kedua orang tua kami, kesalahan dan dosa saudara-saudara kami, kaum muslimin dan muslimat yang telah melalaikan segala perintah-Mu dan melaksanakan larangan-Mu. Andaikan Engkau tidak mengampuni dan memaafkan kami, kami takut pada adzab-Mu di akhirat nanti dan pertentangan bathin dalam kehidupan dunia ini. Ya Allah. Janganlah Engkau limpahkan adzab-Mu kepada kami, karena dosa dan kesalahan kami. Kami yakin ya Allah, rahmat dan ampunan-Mu jauh lebih luas daripada adzab-Mu.

Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Terimalah segala amal ibadah kami, terimalah ibadah puasa kami, terimalah shalat kami dan amal ibadah kami yang lain. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang selalu bertaqwa, yang ridha dan ikhlas untuk melaksanakan segala aturan-Mu, yang ridha dan ikhlas, menjadi Islam sebagai kurikulum kehidupan, yang ridha dan ikhlas, Al-Qur'an sebagai imam dan petunjuk kami, yang ridha dan ikhlas, Nabi Muhammad Saw. sebagai panutan kami.

Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Berbagai macam ujian dan musibah kini sedang menimpa masyarakat dan bangsa kami. Kami yakin musibah itu bukan karena Engkau membenci kami, akan tetapi sebagai peringatan agar kami semua lebih dekat dan lebih cinta kepada-Mu. Agar kami semuanya lebih memiliki sikap سمعنا وأطعنا akan segala ketentuan-Mu. Agar kami semua kembali pada agama-Mu, yaitu agama Islam yang Engkau ridhai.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فيِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونْ فَاذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْـئَلُوْهُ مِنْ فَضْـلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc. Guru Besar Ilmu Agama Islam Institut Pertanian Bogor (IPB) Direktur Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor Jl. KH. Soleh Iskandar Km.2 Kedung Badak Tanah Sareal Bogor 16164 Telp. 0251-8335335 Faks. 0251-8373765

Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Jl. Raya Kebon Sirih No. 57 Jakarta Pusat Telp. 021-3919583 Faks. 021-3913777

* Disampaikan pada Khutbah 'Iedul Fihtri 1 Syawal 1430 H, di Lapangan Sempur Bogor. * Foto: Republika

Khutbah Idul Fitri 1430 H (2)

MELESTARIKAN NILAI-NILAI RAMADHAN

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah Penulis 24 Judul Buku Manajemen Masjid, Dakwah dan Keislaman HP. 0812-9021953. Email: ayani_ku@yahoo.co.id

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu. Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Setelah Ramadhan kita akhiri, bukan berarti berakhir sudah suasana ketaqwaan kepada Allah swt, tapi justeru tugas berat kita untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan itu dengan peningkatan ketaqwaan kepada Allah swt, karenanya bulan sesudah Ramadhan adalah Syawwal yang artinya peningkatan. Disinilah letak pentingnya melestarikan nilai-nilai Ibadah Ramadhan.

Sekurang-kurangnya, ada lima nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan, paling tidak hingga Ramadhan tahun yang akan datang. Pertama, tidak gampang berbuat dosa. Ibadah Ramadhan yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya membuat kita mendapatkan jaminan ampunan dari dosa-dosa yang kita lakukan selama ini, karena itu semestinya setelah melewati ibadah Ramadhan kita tidak gampang lagi melakukan perbuatan yang bisa bernilai dosa, apalagi secara harfiyah Ramadhan artinya membakar, yakni membakar dosa. Kalau dosa itu kita ibaratkan seperti pohon, maka bila sudah dibakar, pohon itu tidak mudah tumbuh lagi, bahkan bisa jadi mati, sehingga dosa-dosa itu tidak mau kita lakukan lagi.

Dengan demikian, jangan sampai dosa yang kita tinggalkan pada bulan Ramadhan hanya sekadar ditahan-tahan untuk selanjutnya dilakukan lagi sesudah Ramadhan berakhir dengan kualitas dan kuantitas yang lebih besar. Kalau demikian jadinya, ibarat pohon, hal itu bukan dibakar, tapi hanya ditebang cabang-cabangnya sehingga satu cabang ditebang tumbuh lagi tiga, empat bahkan lima cabang dalam beberapa waktu kemudian. Dalam kaitan dosa, sebagai seorang muslim jangan sampai kita termasuk orang yang bangga dengan dosa, apalagi kalau mati dalam keadaan bangga terhadap dosa yang dilakukan, bila ini yang terjadi, maka sangat besar resiko yang akan kita hadapi dihadapan Allah swt, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُواْ عَنْهَا لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاء وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka bisa masuk ke dalam syurga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan (QS Al A’raf [7]:40).

Kedua nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan adalah hati-hati dalam bersikap dan bertindak. Selama beribadah Ramadhan, kita cenderung berhati-hati dalam melakukan sesuatu, hal itu karena kita tidak ingin ibadah Ramadhan kita menjadi sia-sia dengan sebab kekeliruan yang kita lakukan. Secara harfiyah, Ramadhan juga berarti mengasah, yakni mengasah ketajaman hati agar dengan mudah bisa membelah atau membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Ketajaman hati itulah yang akan membuat seseorang menjadi sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku. Sikap seperti ini merupakan sikap yang sangat penting sehingga dalam hidupnya, seorang muslim tidak asal melakukan sesuatu, apalagi sekadar mendapat nikmat secara duniawi.

Kehati-hatian dalam hidup ini menjadi amat penting mengingat apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah swt, karenanya apa yang hendak kita lakukan harus kita pahami secara baik dan dipertimbangkan secara matang, sehingga tidak sekadar ikut-ikutan dalam melakukannya, Allah swt berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS Al Isra [17]:36).

Nilai ibadah Ramadhan ketiga yang harus kita lestarikan dalam kehidupan sesudah Ramadhan adalah bersikap jujur. Ketika kita berpuasa Ramadhan, kejujuran mewarnai kehidupan kita sehingga kita tidak berani makan dan minum meskipun tidak ada orang yang mengetahuinya. Hal ini karena kita yakin Allah swt yang memerintahkan kita berpuasa selalu mengawasi diri kita dan kita tidak mau membohongi Allah swt dan tidak mau membohongi diri sendiri karena hal itu memang tidak mungkin, inilah kejujuran yang sesungguhnya. Karena itu, setelah berpuasa sebulan Ramadhan semestinya kita mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, jujur dalam berinteraksi dengan orang, jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya.

Dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita sekarang ini, kejujuran merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Banyak kasus di negeri kita yang tidak cepat selesai bahkan tidak selesai-selesai karena tidak ada kejujuran, orang yang bersalah sulit untuk dinyatakan bersalah karena belum bisa dibuktikan kesalahannya dan mencari pembuktian memerlukan waktu yang panjang, padahal kalau yang bersalah itu mengaku saja secara jujur bahwa dia bersalah, tentu dengan cepat persoalan bisa selesai. Sementara orang yang secara jujur mengaku tidak bersalah tidak perlu lagi untuk diselidiki apakah dia melakukan kesalahan atau tidak. Tapi karena kejujuran itu tidak ada, yang terjadi kemudian adalah saling curiga mencurigai bahkan tuduh menuduh yang membuat persoalan semakin rumit. Ibadah puasa telah mendidik kita untuk berlaku jujur kepada hati nurani kita yang sehat dan tajam, bila kejujuran ini tidak mewarnai kehidupan kita sebelas bulan mendatang, maka tarbiyyah (pendidikan) dari ibadah Ramadhan kita menemukan kegagalan, meskipun secara hukum ibadah puasanya tetap sah.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu. Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Ketiga yang merupakan nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan adalah memiliki semangat berjamaah. Kebersamaan kita dalam proses pengendalian diri membuat syaitan merasa kesulitan dalam menggoda manusia sehingga syaitan menjadi terbelenggu pada bulan Ramadhan. Hal ini diperkuat lagi dengan semangat yang tinggi bagi kita dalam menunaikan shalat yang lima waktu secara berjamaah sehingga di bulan Ramadhan inilah mungkin shalat berjamaah yang paling banyak kita laksanakan, bahkan melaksanakannya juga di masjid atau mushalla.

Disamping itu, ibadah Ramadhan yang membuat kita dapat merasakan lapar dan haus, telah memberikan pelajaran kepada kita untuk memiliki solidaritas sosial kepada mereka yang menderita dan mengalami berbagai macam kesulitan, itupun sudah kita tunjukkan dengan zakat yang kita tunaikan. Karena itu, semangat berjamaah kita sesudah Ramadhan ini semestinya menjadi sangat baik, apalagi kita menyadari bahwa kita tidak mungkin bisa hidup sendirian, sehebat apapun kekuatan dan potensi diri yang kita miliki, kita tetap sangat memerlukan pihak lain. Itu pula sebabnya, dalam konteks perjuangan Allah swt mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjamaah, yang saling kuat menguatkan sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنيَانٌ مَّرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh (QS Ash Shaf [61]:4)

Nilai ibadah Ramadhan kelima yang harus kita lakukan sesudah Ramadhan berakhir adalah melakukan pengendalian diri. Puasa Ramadhan adalah pengendalian diri dari hal-hal yang pokok seperti makan dan minum. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang pokok semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari kebutuhan kedua dan ketiga, bahkan dari hal-hal yang kurang pokok dan tidak perlu sama sekali. Namun sayangnya, banyak orang telah dilatih untuk menahan makan dan minum yang sebenarnya pokok, tapi tidak dapat menahan diri dari hal-hal yang tidak perlu, misalnya ada orang yang mengatakan: “saya lebih baik tidak makan daripada tidak merokok”, padahal makan itu pokok dan merokok itu tidak perlu. “

Kemampuan kita mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak benar menurut Allah dan Rasul-Nya merupakan sesuatu yang amat mendesak, bila tidak, kehidupan ini akan berlangsung seperti tanpa aturan, tak ada lagi halal dan haram, tak ada lagi haq dan bathil, bahkan tak ada lagi pantas dan tidak pantas atau sopan dan tidak. Yang jelas, selama manusia menginginkan sesuatu, hal itu akan dilakukannya meskipun tidak benar, tidak sepantasnya dan sebagainya. Bila ini yang terjadi, apa bedanya kehidupan manusia dengan kehidupan binatang, bahkan masih lebih baik kehidupan binatang, karena mereka tidak diberi potensi akal, Allah swt berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS Al A’raf [7]:179).

Dengan demikian, harus kita sadari bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan, keberhasilan ibadah Ramadhan justeru tidak hanya terletak pada amaliyah Ramadhan yang kita kerjakan dengan baik, tapi yang juga sangat penting adalah bagaimana menunjukkan adanya peningkatan taqwa yang dimulai dari bulan Syawal hingga Ramadhan tahun yang akan datang. Demikian khutbah ied kita pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama dan memacu kita untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan dengan sikap dan prilaku yang Islami. amien. Akhirnya, marilah kita akhiri khutbah ied kita dengan berdo’a:

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.

اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَة�

KHUTBAH iDUL fITRI 1431

" Badai Fitnah Menerpa Ummat Akhir Zaman "


بسم الله الرحمن الرحيم


01 Syawwal 1431 H / September 2010

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا

لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرونلآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده
لآإله إلا الله الله أكبر الله أكبر و لله الحمدالحمد لله الذي ألف بين قلوبنا فأصبحنا بنعمته إخواناالحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كلهولو كره المشركونأشهد أن لآإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول اللهاللهم صلي على محمد و على آله و أصحابه و أنصاره و جنودهو من تبعهم بإحسان إلى يوم الدينفقال الله تعالى في كتابه الكريم:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍوَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨﴾
الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa terima-kasih kepada Allah SWT semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat. Jauh lebih banyak ni’mat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk bersyukur. Terutama marilah kita ber-terimakasih kepada-Nya atas ni’mat yang paling istimewa yang bisa diterima manusia. Tidak semua manusia mendapatkannya. Alhamdulillah kita termasuk yang mendapatkannya. Itulah ni’mat iman dan Islam, yang dengannya hidup kita menjadi jelas, terarah, terang, benar dan berma’na serta selamat di dunia maupun akhirat.

Sesudah itu, marilah kita ber-terimakasih pula kepada Allahu ta’ala atas limpahan ni’mat sehat-wal’aafiat. Ni’mat yang memudahkan dan melancarkan segenap urusan hidup kita di dunia. Semoga kesehatan kita kian hari kian mendekatkan diri dengan Allahu ta’ala. Dan semoga saudara-saudara kita yang sedang diuji Allah melalui aneka jenis penyakit sanggup bersabar menghadapi penderitaannya…bersama keluarga yang mengurusnya, sehingga kesabaran itu mengubah penyakit mereka menjadi penghapus dosa dan kesalahan. Amien, amien ya rabbal ‘aalamien.

Selanjutnya khotib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt agar Dia melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan melalui ucapan sholawat dan salam-sejahtera kita kepada manusia pilihan yang mengajarkan kita hakikat iman dan islam… imamul muttaqin pemimpin orang-orang bertaqwa dan qaa-idil mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dan kita berdo’a kepada Allah swt, semoga kita yang hadir di tempat yang baik ini dipandang Allah swt layak dihimpun bersama mereka dalam kafilah panjang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

Tak lupa khotib juga mengajak jamaah sekalian untuk mendoakan saudara-saudara kita kaum muslimin, mukminin, muwahhidiin dan mujahidin di berbagai belahan bumi yang sedang didera berbagai kesulitan. Baik karena bencana alam berupa banjir, gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus dan lain sebagainya. Maupun karena kezaliman fihak musuh-musuh Allah yang memerangi, memboikot, memfitnah hingga memenjarakan mereka. Ya Allah, berilah kesabaran kepada mereka dalam menghadapi berbagai ujian hidup ini. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

Semenjak dahulu Al-Qur’an telah memperingatkan kita akan fitnah (profokasi) yang ditimbulkan oleh musuhNya dan musuh orang-orang beriman, yaitu syetan. Bahkan Allah mengkaitkannya dengan peristiwa fitnah paling pertama yang menimpa kakek moyang ummat manusia, yakni Nabiyullah Adam ‘alahis-salam.

يَا بَنِي آدَمَ لا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat di-fitnah (ditipu) oleh syetan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga.” (QS Al-A’raf 27)

Syethan merupakan musuh yang nyata yang sepatutnya senantiasa diperlakukan sebagai musuh. Dihadapi dengan kewaspadaan penuh, sikap non-kompromi dan “senjata” yang memadai. Bukan sebaliknya, dihadapi dengan jiwa santai, sikap kooperatif dan tanpa persenjataan cukup.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا

يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Fathir 6)

Dan perlu diingat bahwa musuh kita ini terdiri dari dua golongan makhluk, yaitu manusia dan jin. Inilah yang membuat pertarungan orang beriman menghadapi mereka menjadi sangat berat. Sebab kita hanya mampu mendeteksi salah satu diantara keduanya sedangkan yang satu lagi sungguh sulit, kecuali jika Allah izinkan. Wallahu a’lam.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin.” (QS Al-An’aam 112)

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

Lima belas abad yang lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam telah memperingatkan kita bahwa akan datang suatu masa dimana badai fitnah akan menyelimuti dunia sehingga mengancam iman kaum muslimin. Dan badai fitnah itu menjadikan dunia sedemikian gelapnya sehingga seorang muslim rela menjual agamanya yang mahal demi meraih kesenangan dunia yang murah. Sungguh suatu tindakan hina dan berbahaya.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki diwaktu pagi masih mukmin dan diwaktu sore telah menjadi kafir, dan diwaktu sore masih beriman dan paginya menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (AHMAD - 8493)

Sadarkah kita bahwa salah satu perkara penting yang sering diabaikan oleh ummat Islam dewasa ini ialah betapa terancamnya eksistensi iman kita? Sadarkah kita bahwa aneka serangan al-ghazwu al-fikri (perang pemikiran atau the battle of hearts and minds) secara sistematis berlangsung setiap hari merongrong keutuhan iman diri, anak dan isteri kita? Kian hari kian terasa betapa zaman yang sedang kita jalani dewasa ini merupakan potongan zaman yang sarat dengan fitnah. Inilah zaman yang telah di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang berbunyi:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan hidangannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud)

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Penyakit Al-Wahan alias ”Cinta dunia dan takut akan kematian” cukup hebat mendominasi ummat Islam dewasa ini. Penyakit ini muncul dikarenakan hebatnya pengaruh pemimpin dunia global dewasa ini yang terdiri dari kaum kuffar yang tidak faham apapun soal perkara kehidupan akhirat. Mereka memang sangat canggih dalam menguasai berbagai lini kehidupan menyangkut urusan lahiriah-materialistik kehidupan dunia. Namun soal kehidupan sejati di akhirat kelak, mereka sangatlah lalai dan tidak peduli bahkan tidak mempercayainya. Dunia secara global dewasa ini sedang dikendalikan oleh bangsa Ruum (Romawi) alias Barat Eropa-Amerika. Dan Allah menggambarkan peradaban Romawi kafir di dalam surah Ar-Ruum sebagai berikut:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS Ar-Ruum ayat 7)

Para pemimpin global bangsa Romawi Modern ini dengan gencar, sistematis dan penuh kesungguhan berusaha keras mensosialisasikan faham materialisme dan sekularisme yang menjadi falsafah hidup mereka kepada segenap penduduk planet bumi. Tanpa kecuali ummat Islam di dalamnya. Dengan segenap sarana dan prasarana yang dimiliki mereka berusaha menjadikan setiap orang yakin bahwa hanya dengan menimbun materi-lah kebahagiaan bakal diperoleh. Hanya dengan memisahkan urusan dunia dari nilai-nilai agama atau keimanan-lah manusia akan mencapai kebebasan sejati.

Artinya, mereka berusaha menularkan nilai-nilai kekufuran yang ada dalam diri mereka kepada siapa saja, termasuk kita yang asalnya beriman. Sehingga tidak sedikit kaum muslimin di berbagai belahan dunia mulai mengekor kepada pandangan hidup kaum kuffar pemimpin global dunia dewasa ini. Persis sebagaimana diprediksikan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ

لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti tradisi/kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak-pun kalian pasti akan mengikuti mereka." Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka." (MUSLIM - 4822)

Kepemimpinan barat atas dunia modern dewasa ini jelas mencerminkan dominasi the Judeo-Christian Civilization (peradaban Yahudi-Nasrani) atas ummat manusia, termasuk ummat Islam di dalamnya. Sehingga tidak sedikit kaum muslimin yang terjangkiti virus ”taqlid” mengekor kepada tradisi dan jalan hidup mereka. Kita bukan sekedar mempermasalahkan maslah-masalah ringan seperti Birthday Party (pesta ulang tahun) atau Valentine’s Day. Namun yang kita prihatinkan betapa negeri-negeri muslim telah mengekor kepada mereka dalam berbagai tata kehidupan seperti sistem hukum, politik, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Allah SWT bahkan me-warning kita bahwa inilah karakter dasar kaum Yahudi dan Nasrani.

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (tradisi/jalan hidup/agama) mereka. (QS Al-Baqarah 120)

Sungguh ironis menyaksikan bagaimana satu setengah miliar lebih kaum muslimin sedunia bisa menjadi korban sebuah peradaban yang terputus dari petunjuk Allah. Bagaimana mungkin suatu ummat yang memiliki Kitabullah Al-Qur’an yang Allah jamin kebenaran dan keasliannya dapat diarahkan oleh ummat-ummat yang Kitab Sucinya –yakni Taurat dan Injil- telah mengalami kontaminasi dan manipulasi di sana-sini?

Allah secara jelas-tegas memperingatkan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam dan kita ummat Islam siapa sesungguhnya kaum Yahudi ini:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

”Sesungguhnya kamu (Muhammad) dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS Al-Maidah ayat 82)

Bisa anda bayangkan bagaimana suatu kaum yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang beriman akan bertingkah laku bilamana mereka memiliki kontrol atas segenap lini kehidupan. Baik itu ideologi, politik, ekonomi, perdagangan, keuangan, sosial, budaya, pendidikan, mass-media, hukum, militer dan pertahanan keamanan semuanya berada di bawah pengaruh dan kendali kaum Yahudi dewasa ini.

Hasilnya berupa berdirinya suatu peradaban modern yang disebut oleh Ahmad Thomson -seorang penulis muslim asal Inggris- sebagai sebuah Sistem Dajjal. Yaitu sebuah mega-proyek Tatanan Dunia Baru (baca: New World Order) yang memang sengaja dirancang demi menyambut kedatangan pemimpin yang mereka nanti-nantikan, yaitu si ”mata tunggal” Ad-Dajjal. Para pemimpin kafir skala global dewasa ini memang sengaja mempersiapkan sebuah tatanan kehidupan modern sebagai bentuk persembahan mereka kepada Ad-Dajjal yang mereka yakini bakal senang dan ridho terhadap usaha mega-proyek ini. Persis sebagaimana mereka tulis dalam bahasa Latin di atas The Great Seal dalam lembaran uang kertas satu dollar Amerika Serikat, yaitu Annuit Coeptis yang berarti He (God/The Eye/Providence) has favored our undertakings = Semoga Dia (Tuhan/Si Mata Tunggal/Yang Mencukupi) merestui usaha kami.

Jangan-jangan inilah zaman dimana badai fitnah yang muncul akan bermuara kepada hadirnya fitnah paling dahsyat, yaitu fitnah Ad-Dajjal.

ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ

أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا

وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Suatu ketika ihwal Dajjal dibicarakan di hadapan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam Kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Ad-Dajjal, dan tidak ada orang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula dari fitnah (Dajjal). Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali dalam rangka menjemput fitnah Ad-Dajjal.”(HR Ahmad)

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Banyak hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang berbicara mengenai era badai fitnah di Akhir Zaman ternyata sangat cocok menggambarkan keadaan dunia modern dewasa ini. Di antaranya dalam aspek penyimpangan hukum dan melemahnya semangat beribadah ummat:

َليُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ

تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

“Sungguh akan terurai ikatan Islam simpul demi simpul. Setiap satu simpul terlepas maka manusia akan bergantung pada simpul berikutnya. Yang paling awal terurai adalah simpul hukum dan yang paling akhir adalah simpul shalat,” (HR Ahmad 21139).

Segenap negeri muslim hari ini lebih bangga dan percaya diri menerapkan hukum produk manusia daripada kembali kepada hukum Allah, hukum Islam, hukum berdasarkan Al-Qur’an. Bahkan kebanyakan muslim merasa alergi dengan gagasan penerapan syariat Islam. Kadang dengan ringannya dia berkomentar: ”Apa, memberlakukan hukum Islam?! Iih serem...!” Padahal Allah dengan tegas menyebut mereka yang menolak hukum Allah dan RasulNya sebagai kaum munafik...!

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ

رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

“Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS An-Nisa 60)

Dalam aspek keilmuan dan pendidikan:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ لَأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ

Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda; "Menjelang kiamat terjadi, terdapat hari-hari yang ketika itu banyak kebodohan dan ilmu (agama) diangkat." (BUKHARI - 6538)

Di masa ini kita seringkali disajikan melalui TV gagasan-gagasan tidak bermutu dari kalangan yang memang tidak berilmu sedangkan orang yang benar-benar berilmu justeru hampir tidak pernah ditampilkan.

Dalam aspek ekonomi dan keuangan:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يَبْقَى مِنْهُمْ أَحَدٌ

إِلَّا آكِلُ الرِّبَا فَمَنْ لَمْ يَأْكُلْ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Benar-benar akan datang kepada manusia suatu zaman, tidak seorang pun dari mereka kecuali akan memakan riba. Dan barangsiapa tidak memakannya, maka ia akan terkena debunya." (IBNU MAJAH - 2269)

Bukan rahasia lagi bahwa sistem ekonomi ribawi mendominasi dunia dewasa ini. Padahal Allah dengan tegas mengancam akibat yang bakal terjadi jika kaum yang mengaku beriman turut menikmati riba yang masih disimpannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. (QS Al-Baqarah 278-279)

Dalam aspek perdagangan dan mata pencaharian:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ مِنْ الْمَالِ بِحَلَالٍ أَوْ بِحَرَامٍ

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sungguh akan datang pada manusia suatu masa, seseorang tidak perduli lagi dari mana harta yang diperolehnya, (apakah dengan cara) halal atau haram." (AHMAD - 9247)

Dalam aspek budaya dan moralitas:

مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا … وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ

مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ

وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat: … (2) Wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang (karena pakaiannya terlalu minim, terlalu tipis atau tembus pandang, terlalu ketat, atau pakaian yang merangsang pria karena sebagian auratnya terbuka), berjalan dengan berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium aroma surga. Padahal aroma surga itu dapat tercium dari begini dan begini." (MUSLIM - 3971)

Dalam aspek politik dan kepemimpinan:

سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ

وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ

Rasulullah shollallahu’alaih wa sallam bersabda: “Akan muncul pemimpin-pemimpin yang kalian kenal, tetapi kalian tidak menyetujuinya. Orang yang membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya tidak terbebaskan(dari tanggungan dosa).” (MUSLIM 3445)

Badai fitnah telah menyebabkan banyak muslim begitu saja mematuhi para pemimpin yang tidak berpedoman kepada petunjuk Allah dan RasulNya. Bahkan mereka malah ikut serta dalam perlombaan memperebutkan jabatan dan kekuasaan dalam sistem politik Sistem Dajjal ini, seolah mereka lupa atau tidak peduli dengan pesan Nabi shollallahu’alaih wa sallam :

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً

يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتْ الْفَاطِمَةُ

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya kalian akan rakus terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat, ia adalah seenak-enaknya penyusuan dan segetir-getirnya penyapihan." (BUKHARI - 6615)

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

Demikianlah gambaran badai fitnah yang menerpa ummat Islam di Akhir Zaman yang telah diperingatkan oleh pemimpin kita Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kita yang hidup di masa ini justeru menjadi saksi kebenaran berbagai prediksi beliau. Semua rangkaian fitnah ini tidak terlepas dari berbagai makar dan rencana busuk musuh Allah sekaligus musuh orang-orang beriman yaitu para syethan, baik dari golongan jin maupun manusia. Dan apa yang khotib uraikan hanyalah sebagian kecil dari makar tersebut mengingat bahwa kita hanya diberi kesanggupan untuk mendeteksi gerak-gerik syethan golongan manusia.

Semoga berbagai amaliah Ramadhan tahun ini mampu menjadikan kita ummat yang benar-benar sabar menghadapi badai fitnah di Akhir Zaman sebagaimana disebutkan oleh Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya:

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ

فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ وَزَادَنِي غَيْرُهُ

قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Sesungguhnya di belakang kalian akan ada hari-hari (yang kalian wajib) bersabar, sabar pada saat itu seperti seseorang yang memegang bara api, dan orang yang beramal pada saat itu pahalanya sebanding dengan lima puluh kali amalan orang yang beramal seperti amalnya." Abu Tsa'labah bertanya, "Wahai Rasulullah, seperti pahala lima puluh orang dari mereka?" beliau menjawab: "(Bahkan) seperti pahala lima puluh orang dari kalian (para sahabat)." (ABUDAUD - 3778)


Wallahu ‘alam bish-shawwaab.-

DOA

رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

"Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". (QS 18:10)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ

فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيم ٌ

"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (QS 59:10)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS 3:8)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 3:147)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا

حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا

وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 2:286)

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ ءَامِنُوا

بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS 3:192-194)

اللهم إني أعوذبك بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab jahannam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian serta dari jahatnya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal" (HR Muslim)

KHUTBAH iDUL fITRI 1431

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
الحمد لله ... وسعت رحمته وتعالت قدرته و تجلت عظمته أشهد أن لا
إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلوات الله
وسلامه عليك يا رسول الله وإنك لعلى خلق عظيم بلغت الرسالة وأديت
الأمانة ونصحت الأمة وجاهدت في سبيل الله حق الجهاد حتى أتاك
اليقين وعلى آلك وأصحابك ومن اتبع سنتك واهتدى بهداك وسار على
نهجك إلى يوم الدين . أما بعد
فمن آيات الله البينات قوله تبارك وتعالى :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ
مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ ( الحشر: 18 )

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

1. Kesaksian Ramadhan

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Hamba-hamba Allah yang sama-sama mengharap ampunan dan rahmat-Nya !

Ramadhan bulan al Qur’an, bulan shabar, bulan jihad, bulan perjuangan, bulan pembersih jiwa pencuci hati dan bulan perlombaan guna meraih takwa dan kebebasan dari siksa, kini dia telah pergi meninggalkan kita. Kapan dia akan kembali menemui kita?
Dia pasti akan kembali menemui kita manakala hari kesaksian telah tiba. Dia akan menjadi saksi pembela atau penuntut. Pembela bagi yang sukses meraih takwa dan penuntut atas orang yang membiarkannya pergi tanpa meninggalkan bekas yang berarti.
Tiada seorang pun dari kita yang memiliki bukti dimana posisi kita?

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Bulan al-Quran kini telah pergi. Saat belum pegi dia menyaksikan seperti apa sikap kita terhadap Al-Quran apa yang telah kita perjuangkan untuk menegakan ajarannya, langkah apa yang telah kita ambil untuk membela haq dan menghancurkan kebatilan ?

Dia juga menyaksikan bagaimana kita mengisi bulan yang penuh rahmat dan ampunan, apakah telah kita nikmati dengan qiyamullail dan tadabbur al-Quran, merintih sambil berdiri dihadapan Yang Maha Tinggi, menunduk dengan ruku’ dan sujud hingga mencapai nikmat khusyu, mengikuti akhlak ibadurrahman terdahulu. ataukah hanya diisi dengan begadang tanpa membekas pada qalbu?

Shaum adalah ibadah yang dapat menambah kekuatan spiritual untuk menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan. Meski kita telah melaksanakan ibadah shaum, namun, apakah kita telah meraih kekuatan baru untuk menguasai tuntutan hawa nafsu? Baik tuntutan yang berkaitan dengan pandangan, pendengaran,ngkapan, pemikiaran, angan-angan, ataupun lainnya? Atau hanya sekedar menahan haus dan lapar laksana pelaku aksi mogok makan ?

2. Shaum pengendali hawa nafsu

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Hadirin sidang ‘Ied rahimakumullah !

Pada tahun 1431 H ini banyak sekali masyarkat yang kehilangan masa depan. Bukan kehilangan tempat kerja mencari makan, bukan pula kehilangan jabatan di pemerintahan, melainkan kehilangan arah hidup dan tujuan, karena mereka sibuk mengejar kenikmatan yang akan pergi, dan mereka rela menjauh dari kenikmatan yang sebentar lagi akan tiba. Mereka mengejar kehidupan yang belum jelas, dan menjauh dari kenikmatan yang pasti.

Para politisi terus berupaya melakukan perubahan, namun harapan umat masih jauh dari harpan. Banyak pihak yang ingin melakukan perbaikan. Perbaikan apakah kiranya yang dapat mengarahkan umat menuju keselamatan? Apakah perbaikan politik yang terlukiskan dalam perubahan struktur kepimpinan? Atau perbaikan sosial dan ekonomi yang menjadi dambaan umumnya masyarakat setaipa zaman? Sungguh semua pebaikan tidaklah akan berarti tanpa disertai perbaikan keyakinan tentang hari pembalasan.

Julukan "Negara maju" telah diraih oleh beberapa negara hanya karena kemajuan sains dan teknologi. Ternyata, dengan kemajuan tersebut banyak rakyat yang kehilangan tujuan hidup yang hakiki. Apa yang telah mereka pandang sebagai suatu kemajuan tidaklah lebih dari patamorgana yang telah banyak menipu manusia dan menjerumuskan mereka ke dalam jurang yang penuh duri dan derita.

Dengan semakin lengkapnya fasilitas hidup, semestinya manusia semakin tunduk kepada Yang Mahaagung, semakin merendah dihadapan Yang Mahakuasa. Namun fakta berbicara, kebanyakan dari mereka malah semakin angkuh dan lupa diri, tidak sadar bahwa ajal tidak lama lagi akan tiba. Mengapa hal ini terjadi? tidak lain karena kebanyakan manusia berjuang hanya untuk melakukan perbaikan masalah kehidupan yang tidak pasti. Sementera perbaikan status sebagai hamba dan khalifah mereka lupakan. Akhirnya mereka mengaku maju dan mulia padahal mereka sedang mengalami kemunduran dan terancam kehinaan.

Mereka merasa bangga dengan luasnya ilmu dan berlimpahnya harta, pada saat yang sama mereka sibuk menjadi penyembah ilmu dan pelayan harta. Kapan mereka akan dapat menikmati kemerdekaan? Mereka mencurahkan segala upaya untuk meraih cita-cita. Ternyata mereka hanya dikuasai mimpi karena kepuasan hakiki yang mereka nantikan tak kunjung tiba. Sungguh celaka orang yang jauh dari yang Mahakuasa meski dekat dengan para penguasa.

Jika mereka habiskan waktu untuk melayani jabatan; jika mereka sia-siakan kesempatan akibat sibuk mengejar kekayaan; kapan mereka akan meraih kesuksesan hidup yang bebas dari ancaman?

Sungguh, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, meski diharapkan dapat merubah kondisi politik, sosial dan ekonomi, namun tidaklah akan mampu merubah nasib bangsa kecuali dengan merubah apa yang ada pada nafsu-nafsu mereka.

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا
بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ
لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ(11)

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada nafsu-nafsu mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. 13:11)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا
عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ
سَمِيعٌ عَلِيمٌ(53)

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga mereka merubah apa yang ada pada nafsu-nafsu mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, (QS. 8:53)

Dengan ibadah shaum, semoga kita meraih kekuatan baru untuk mengengdalikan hawa nafsu.

3. Shaum dan Jihad

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Hamba-hamba Allah yang tengah mempersiapkan diri untuk berjuang !!!

Kesempatan untuk pembekalan diri dengan menggunakan bulan suci telah berlalu. Kini tibalah saatnya untuk melangkah guna menghadapi tantangan baru. Tiada kesempatan bagi kita untuk berjuang kecuali sekarang. Tiada kesempatan yang tersisa untuk thaat kepada Allah selain hari ini, sementara besok masih dalam khayalan. Kesempatan menggunakan segala fasilitas hidup demi meraih kehidupan masa depan yang abadi, tidak lama lagi akan berakhir. Karena itu,

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ
نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari dunia.

Gunakan semua yang Allah titipkan kepadamu untuk beramal demi meraih kesenangan hakiki; manfaatkan semua fasilitas hidupmu demi meraih kebahagiaan pada masa depan yang tidak akan berkesudahan. Janganlah sampai lupa hakikat nasibmu dari dunia, jabatanmu tidak lama lagi akan berakhir, usiamu sebentar lagi dijemput ajal, sebanyak apapun kekayaanmu tidaklah kamu nikmati kecuali hanya sebentar nian. Setinggi apapun statusmu saat ini boleh jadi besok kamu sudah menjadi mayit yang tak berdaya.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sungguh banyak orang yang ikut berhari raya bersama kita pada tahun lalu, kini mereka sudah berada di alam gaib.

Pada hari raya mendatang boleh jadi kulit kita sudah terkelupas, daging kita sudah menyatu dengan tanah dan tulang belulang kita sudah berserakan. Dan hari ini merupakan hari raya yang terakhir.

Kedatangan Hari Raya empat belas abad yang silam telah mendapat sambutan hangat dari para shahabat Rasul, shalihin, dan mujahidin, karena dengan meningkatnya kualitas ibadah pada bulan Ramadhan, mereka telah memiliki semangat baru untuk berda’wah, melanjutkan perjuangan menengakkan haq dan menghancurkan kebatilan, melawan musuh Allah dimana saja berada.

Semangat tersebut mereka raih karena mereka, dengan sungguh-sungguh, telah mengikuti pengkaderan rabbani dalam bulan suci, berupa qiyamullail dengan khusyu dan berinteraksi dengan al-Qur’an setiap waktu, hingga mereka menjadi shahabat intim yang abadi bagi al-Qur’an, mereka berbicara dengan al-Qur’an, berfikir dengan bimbingan al-Qur’an dan bergerak bersama al Qur’an, baik pada waktu siang ataupun pada waktu malam. Mujahidin ahli Badar patut berbahagia dengan datangannya Hari Raya, karena mereka telah sukses melawan kafir Quraisy... Dengan kesuksesan itu perjalanan da’wah terbuka lebar dihadapan mereka.... yang membuat mereka semakin yakin akan berkibarnya panji agama yang haq dimuka bumi.... dan terhinanya aturan manusia yang bertentangan dengan kemanusiaan. Kedatangan hari raya telah membuat pasukan Shalahuddin merasa bahagia, karena pada bulan Ramadhan mereka telah mampu menyelamatkan tanah suci al Quds dari tangan-tangan kotor musyrikin. Dengan kemenangan ini suara al-Qur’an terdengar disemua penjuru dunia, dan fatwa ulama menjadi solusi bagi semua problem yang dihadapi umat.

Mari kita melihat apa yang terjadi di negeri kita saat ini?

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sungguh, Hari Raya adalah hari bahagia bagi para pejuang yang meraih takwa, siapakah orang yang meraih takwa itu? Allah Mahatahu, apakah kita telah melakukan ibadah dengan benar? Jika ya, pasti kita mampu melenyapkan kemunkaran dan kemaksiatan dimana saja ditemukan? Allah telah berfirman:

إِنَّ الصََّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.

Kini kita dituntut untuk membuktikannya

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Ikhwatal imani wal Islam rahimakumullah

Setelah Ramadhan pergi, patutkah kita tersenyum, sementara alam diskitar kita menangis karena mereka menyaksikan bahwa dunia Islam yang penuh dengan kenikmatan ilahi ini masih kaya dengan kemaksiatan.

Berita bohong masih mendominasi mass media; persekongkolan kaum musyrikin masih mendapat dukungan dari berbagai pihak termasuk dari kaum yang mengaku muslim; para ulama dan pembela kebenaran kerap mendapat julukan yang membingungkan umat; agama diperalat untuk mencari harta; al-Quran diperalat untuk mencari kepercayaan sesaat; terma-terma dalam Islam telah tercemar karena sering disalahgunakan; akhirnya masyarakat awam semakin bingung, orang miskin tetap miskin dan dibiarkan kelaparan hingga ada yang berani meninggalkan iman; rakyat bodoh tetap bodoh karena dibiarkan jauh dari bimbingan hingga ada yang terpaksa melakukan kejahatan; pengangguran, dari hari kehari semakin bertambah dan berkeliaran di setiap persimpangan jalan, padahal dunia Islam terbukti penuh dengan berbagai jenis kekayaan alam. Dengan memandang fenomena ini, apakah kita termasuk orang-orang yang bersyukur ataukah termasuk orang-orang yang kufur?

Mana penerus ahli Badar, sementara takhayul, khurafat, kemusyrikan, dan penyembahan kepada selain Allah semakin leluasa melebarkan sayapnya. Mereka tersebar di setiap penjuru tanah air hingga masuk dan tersebar ke setiap lapisan masyarakat, karena terus-menerus diekspos berbagai madia baik cetak ataupun elektronik. Mana pelanjut pasukan Badar yang gagah berani melawan kuffar? Mana penerus Bung Tomo yang telah mengumandangkan takbir ditengah kepungan dan kejahatan orang kafir? Mana pelanjut pangeran Diponegoro yang telah berani berkata haq meski berada diujung tombak? Mana pelanjut Shalahuddin al-Ayyubi, sementara masjid al Aqsha masih berada dalam genggaman Yahudi…. Apakah patut kita mengaku telah melaksanakan kewajiban, sementara shalat yang kita lakukan belum mampu mencegah kemunkaran dan kemaksiatan?

4. Evaluasi

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Hadirin sidang ‘Ied rahimakumullah !

Sungguh Allah Maha Mengetahui dan menyaksikan apa yang telah kita lakukan pada bulan suci. Kini bulan yang penuh rahmat dan ampunan itu telah tiada, ia pergi meninggalkan kita. Apakah kita akan bertemu kembali pada tahun berikutnya atau kita akan dipangil untuk menghadap keharibaan Yang Mahatinggi sebelum dia kembali? Tak ada seorangpun diantara kita yang dapat mengetahui kalau dirinya akan hidup sampai esok lusa, apatah lagi hidup sampai bulan Ramadan empat belas tiga dua. Sekiranya kita belum meraih rahmat dan ampunan, apa yang akan kita lakukan bila kita sudah berada di ruang sidang untuk menghadap Hakim

Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui, mengetahui terhadap semua prilaku insan, . Inilah pengadilan yang hakiki yang disaksikan semua makhluk meliputi manusia, jin dan binatang. Dengan kecanggihan teknologi ilahi, semua kesalahan manusia akan tampak, semua dosa akan jelas, dan semua maksiat yang telah dilakukan akan tersingkap. Rekaman suara hati tidak dapat dipungkiri meski saat ini terus ditutupi. Ketika itulah datangnya rasa takut yang tidak akan berujung, rasa malu yang tidak akan berakhir, dan rasa geri yang tidak akan berhenti. Semua akan kita alami bila kita tidak mendapat ampunan ilahi akibat gagal dalam mengisi bulan suci.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Jika kesuksesan sementara di dunia tidak pernah dapat diraih kecuali dengan kelulusan dalam satu proses ujian. Apakah mungkin kesuksesan hakiki dan abadi di akhirat nanti akan dapat kita raih tanpa ujian?

Kehidupan dunia adalah lembaran ujian yang mesti diisi dengan benar untuk meraih sukses pada hari pembalasan. Hanya saja banyak sekali dari kita yang tidak menyadari bahwa kita sedang menghadapi ujian. Nikmat sehat merupakan amanah yang sering dilupakan, apakah kita telah mampu memanfaatkannya demi berjuang membela hak dan keadilan; nikmat harta merupakan amanah yang mesti dipertanggungjawabkan, apakan kita mampu menggunakannya demi kelangsungan da’wah dan keselamatan ummat dari bahaya kemusyrikan.

Bahaya kemusyrikan yang senantiasa mengancam fuqara dan masakin; Usia panjang adalah amanat yang sering diabaikan, apakah kita mampu mengisinya dengan berbagai aktifitas yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat dan ummat beriman; dan ni’mat ilmu adalah amanat yang sangat berharga bila diamalkan, apakah kita mampu menggunakannya untuk meluruskan aktfitas manusia dan mengarahkan mereka menuju ridha arrohman.. semua kenikmatan itu adalah materi ujian. Kita tidak lama lagi akan diperiksa tentang semua kenikmatan yang telah kita terima sejak dahulu hingga hari ini hari lebaran,. Diperiksa di hadapan Pencipta yang telah menjadikan mati dan hidup sebagai ujian.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

(Dialah) yang telah menciptan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa diatanramu yang lebih baik dan ikhlas amalnya Kesempatan beribadah tidak hanya pada bulan Ramadhan. Selama kita masih dapat bernafas maka selama itu pula kita wajib beramal shaleh.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (99)

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) .

Sungguh beruntung orang yang melanjutkan qiyamullail setelah ramadhan berakhir. Sungguh berbahagia orang yang melanjutkan tadarus al-Quran hingga ajal tiba. Sungguh sukses orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu dimanpun dia berada. Sungguh sukses orang yang hidup berjamaah hingga berakhir kesempatan ibadah. Sungguh rugi orang yang berhenti qiyamullail dengan berakhirnya ramadhan. Sungguh celaka orang kembali kepda kebiasaan lama tanpa melihat aturan agama. Tidak akan kita capai derajat orang bertakwa, jika kita menjadikan ramadhan sebagai bulan ibadah musiman yang berakhir dengan datangnya hari raya.

DOA MENUJU SUKSES

At-Tirmizi meriwayatkan dari Ibnu Umar, diatara doa yang diajarkan Rasulullah kepada shahabatnya adalah:

« اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا
وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ
وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا
وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا
أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى
مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ
مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا
وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ
يَرْحَمُنَا »

Ya Allah berilah kami rasa takut pada-Mu hingga kami menjauh dari maksiat Ya Allah, berilah kami nikmat taat pada-Mu yang mengantarkan kami menuju surga-Mu Tanamkanlah dalam qalbu kami keyakinan yang meringankan kami menghadapi ujian dunia Jadikanlah pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami kenikmatan hidup yang Engkau. berikan di dunia, dan jadikanlah sebagai pusaka yang kami wariskan bagi generasi penerus. Ya Allah, arahkanlah perlawanan kami atas orang yang menzalimi kami. Tolonglah kami dalam menghadapi orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau biarkan kami terkena musibat dalam urusan agama kami. Janganlah Engkau biarkan kami sibuk dengan urusan dunia. Janganlah Engkau biarkan kami merasa cukup dengan ilmu yang ada. Dan janganlah Engkau berikan kekuasaan kepada orang-orang yang tidak menyayangi kami.

Ya Allah berilah kami rasa takut pada-Mu hingga kami menjauh dari maksiat Ya Allah, Ya Allah hanya dengan takut pada-Mu kami akan dapat menghidar dari perbuatan maksiat, maka tanankanlah dalam qalbu kami rasa takut hanya pada-Mu.

Ya Allah, berilah kami nikmat taat pada-Mu yang mengantarkan kami menuju surga-Mu.

Ya Allah, telah Engkau sediakan surga bagi orang-orang yang Engkau cintai, berilah kami nikmat ibadah dan taat yang mengantarkan kami mendapat cinta-Mu hingga Engkau masukan kami dengan rahmatMu kedalam surga. Tanamkanlah dalam qalbu kami keyakinan yang meringankan kami menghadapi ujian dunia.

Ya Allah kami menyadari bahwa kehidupan dunia tidak pernah lepas dari ujian, baik ujian yang pahit ataupun yang manis.

Ya Allah tanamkanlah kedalam qalbu kami keyakinan bahwa Engkau senantiasa melihat semua perilaku kami dan Engkau Maha adil dalam menghitung semua amal perbuatan kami.

Ya Allah, jadikanlah semua ujian yang kami hadapi jalan menuju kemuliaan disisi-Mu. Jadikanlah pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami kenikmatan hidup yang Engkau berikan di dunia, dan jadikanlah sebagai pusaka yang kami wariskan bagi generasi penerus.

Ya Allah bimbinglah kami dalam menggunakan pendengaran, penglihatan dan kekuatan untuk beralam shaleh. Janganlah Engkau biarkan kami menyalahgunakan nikmat yang besar ini.

Ya Allah berilah kami kenikamatan menghayati firmanMu, menjiwai ayat-ayat-Mu dan menggunakan semua kekuatan untuk berjuang membela agama-Mu dengan istiqamah hingga ajal menjemput kami.

Ya Allah jadikanlah perjuangan ini sebagai warisan yang bermanfaat bagi generasi penerus kami. Dan bimbinglah mereka untuk melanjutkan perjuangan ini hingga Engkau kumpulkan kami dengan mereka dibawah naungan dan rahmat-Mu pada hari kiamat nanti.

Ya Allah, arahkanlah perlawanan kami atas orang yang menzalimi kami Ya Allah, Engkau-lah Penguasa semua manusia. Berilah kami bimbingan dalam menghadapi orang yang zalim. Dan janganlah Engkau biarkan kami salah sasaran dalam melakukan perlawanan.

Tolonglah kami dalam menghadapi orang yang memusuhi kami Ya Allah Engkau Maha Mengetahui siapa yang membenci agama-Mu, merusak ajaran-Mu dan yang memusuhi hamba-hamba-Mu. Berilah kami kekuatan iman dan semangat berjuang menghadapi mereka. Dan turunkanlah tentara-Mu untuk menghancurkan mereka. Janganlah Engkau biarkan kami terkena musibat dalam urusan agama kami.

Ya Allah jika kami dihadapkan kepada musibat, janganlah Engkau biarkan musibat itu menimpa agama kami. Ya Allah bimbinglah kami dengan musibat itu menuju kemuliaan di sisiMu.

Janganlah Engkau biarkan kami sibuk dengan urusan dunia Ya Allah Engkau-lah Penguasa alam semesta dan Engkau-lah Pemilik kekayaan dunia. Janganlah Engkau biarkan kami menjadi hamba dunia yang sibuk menjadi pelayannya. Janganlah Engkau biarkan kami sibuk dengan kedudukan sesaat dan tertipu dengan kenikmatan sementara. Janganlah Engkau biarkan kami terhina karena dikuasai dunia.

Ya Allah, bimbinglah kami dalam berjuang menggunakan kedudukan dan mengorbankah harta kekayaan untuk melayani umat menuju kebahagiaan akhirat. Janganlah Engkau biarkan kami merasa cukup dengan ilmu yang ada.

Ya Allah berilah kami tambahan ilmu agar semakin jelas di hadapan kami perbedaan antara hak dan batil. Berillah kami ilmu yang bermanfaat bagi masa depan bangsa ini. Janganlah Engkau biarkan kami keliru dalam menentukan pilihan dan langkah yang mesti kami lalui. Dan janganlah Engkau berikan kekuasaan kepada orang-orang yang tidak menyayangi kami.

Ya Allah janganlah Engkau serahkan amanat kekuasaan selain kepada ahli ruku’ dan sujud yang membela agama-Mu. Janganlah Engkau biarkan kami dikuasai oleh orang yang suka maksiat di hadapan-Mu. Janganlah Engkau biarkan kekuasaan dipegang oleh orang yang tidak mengenal kitab suci-Mu. Janganlah Engkau serahkan kekuasaan negeri ini selain kepada hamba-hamba yang Engkau ridhoi.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصل اللهم
على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه ومن اتبعه إلى يوم الدين والحمد لله
رب العالمين
أقول قولى هذا وأستغفر الله لي ولكم